Laman

Minggu, 07 Juni 2015

at night

“Kutipan Rindu”
karya
Aulia Fransischa
(geburindu) 

Sempat kuabaikan rasa
Dalam lelah menanti cinta
Tiada lagi ingin menoleh pada masa lalu
Waktu terus melangkah
Kutitip rindu dalam peran sujud dan do’a
Hingga Tuhan pun merangkul kutipan rinduku atas namamu
Tatapanmu ajari aku setegar senja nan tenggelam
Denting jam lewati malam panjang
Bersama cinta bercahaya kasih paling sempurna
Ku rawat dalam jiwa sang adam
Dan ku jaga hati sebagai benteng kegilaan dunia
Engkaulah waktu-waktu penantianku
Kan kupeluk erat pasir tempat kau bernaung
Bersama lautanku nan setia      
Pada sajakku ada muara rasa tentang kita
Kan ku lebur angan menjadi kenyataan
Bersama kita tempuh jalan berliku tuk gapai asa
Dan bersama kita berlabuh pada bahtera bingkai cinta.



Minggu, 05 April 2015

F.S ^^

“Mendekap Senja”
karya Aulia Fransischa

Tak pantas ku lintasi alam sadar
Walau merentang angan tuk satu pertemuan
Ombak dan kapal pun enggan bertaut
Dengan apa ku harus merajut kembali jejakmu?
Inginku terjang muara cinta…
Inginku kayuh rasa hingga puncak terbitnya
Meski bayangmu lapisi ragaku
Dengan apa ku halau harapan pengembara ini?
Sungguh melafazkan kata suci
Tiada lagi guna bagi pendengaranmu
Tiada lagi sentuh jiwa nan telah hambar
Kemana ku harus memecah langkah?
Kembali ku izinkan satu pelabuhan padamu
Sebelum muara rinduku penat dalam penantian
Sebelum rebah ku mendekap senja
Waktu nan ku pancung dulu
Kini telah ku cabut dalam semi jejakmu
Tatapan nan oleng pada sang dermaga
Jawaban dasar keikhlasan hatimu
Tak gugurkan derasnya tanya diri
Dengan apa ku berkemas?
Penghujung cerita ini menjerit tak usai
Sempat ku sisih perasaan
Demi bertarung belati kata
Mengapa kau tampung ketidakpedulian?
Sesal tiada terkira
Tertatih merangkak harap belas kasih
Wahai sang fajar penabur percik rasa…
Jabatlah rindu ini hendak ku mendekap senja
Rentangkan kasih ini hendak ku mendekap senja
Kobarkan sayang hendak ku mendekap senja
Terbitkan cinta hendak ku mendekap senja
Pada akhir ku berlabuh di pangkuanmu
Bersama dekapan senja nan hakiki.
March 31st, 2015
“geburindu”

Minggu, 22 Maret 2015

again...

“Aku dalam cerminmu”
karya Aulia Fransischa
(geburindu) 

Piawai dua sisi manusia
Antara kau dan aku
Begitu lekat pada sang bening rasa
Tegap ku bertatap pada aku
Kau tadah tetesan bait embun pagi
Menguap didihan rasa
Menjadi tenunan cinta…
Bukan!
Aku terperangkap dalam cerminmu
Kau berbalik asuh hati diri ini
Kau hujam bayang semu
Fatamorgana rasuki lemah ragaku
Telusuri jejak palsu lalu kau kembali
Uluran jemari sentuhi kalbu
Kau lah sejatinya pemenang
Namun tak selamanya sejati!
Detik pun alih membenci
Pandai katanya meruncing tikam jiwa
Ingatlah!
Kau, aku dan semua pada sabdaNya
Mengampu pada seluruh hukum nan agung.

March 18, 2015


second edition "poem"

“Naluri Binatang Lelaki”
karya Aulia Fransischa
(geburindu) 

Kala hujatan seribu bahasa
Hinaan sejuta cacat
Jembatani sepanjang hilir jiwa
Lingkari tahta demi wanitamu satu
Naluri binatang lelaki
Sesak ular nan melilit bertatap mata hitam
Aliran bisa merobek cikal percikan darah biru
Berkutip tanpa rasa benci
Naluri binatang lelaki
Bisu jangan dicari sempurna
Alih sekejap mata memandang
Takkah kau sadari
Satu kata satu bumerang                                                      
Namun wanitamu berbalik otak mengerti
Naluri binatang lelaki
Setiap jejak-jejak tikus
Kau sanggupi alaskan kain putih
Taburkan mahar nan berkelopak mawar merah
Hingga kau kalah dan menang
Pada junjungan tinggi singgasanamu

March 21, 2015

Rabu, 04 Maret 2015

"Poem"



“Sautan Senja”
by
Aulia Fransischa
(geburindu) 

Kutabur segenggam mutiara hati
Demi sederai rasa tak terbalas
Kuhidupi jinaknya hitam merpati
Demi sejentik rindu berkecamuk

                   Kau yang ku panggil
                   Sautan senja…
                   Kau yang ku tunduk
                   Wahai sautan senja…

Jemput sang titah petitih kalbu
Matikan rasa cinta  nan semu
Lenyapkan jiwa rapuh tiada daya
Terkam aku sejuta bisa
Tinggalkan…
Sautan senja

March 3rd, 2015